KAB. SUKABUMI - Memiliki keunikan geologi, keanekaragaman flora dan fauna, serta pemandangan bentang alam yang menawan, menjadikan Geopark Ciletuh layak disebut Pinggiran Surga yang berada di Jawa Barat. 

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, saat melakukan Deliniasi Kawasan Ciletuh bersama tim Kerja di Panenjoan, Taman Jaya, Kamis (26/03).
 
Rasa kagum tersebut diungkapkannya setelah menyaksikan langsung keunikan Geopark Ciletuh di beberapa spot seperti Sodong Parat, Batunuggul, Ciwaru, dan Panenjoan Taman Jaya.
 
Kawasan Ciletuh tersebut rencananya akan dikembangkan di 6 titik lokasi dengan anggaran sebesar Rp 200 Miliar dalam APBDP. Salah satu target pengembangan adalah akses jalan. Akses jalan sejauh 12 km menuju Ciwaru, Kecamatan Ciemas akan diperbaiki. Selain itu, akan dibuat juga akses untuk pejakan kaki dan akses laut dari Pelabuhan Ratu.
 
Selain perbaikan tersebut, Deddy juga menginginkan pembenahan sungai yang tercemar sendimentasi tanah, akibat pertambangan dan rusaknya daerah hulu sungai, sehingga bila semua sudah dibenahi, maka Ciletuh semakin pantas untuk dikatakan sebagai Pinggiran Surga.
 
“Tadi laut tercemar. Itu karena hulunya sudah rusak. Saya belum pernah kesana tetapi pasti sudah rusak. Itu harus ditanami kembali, sehingga tidak ada sendimentasi tanah yang begitu kotor yang mencemari laut. Satu tadi penambangan di Cimarinjung, kedua sungainya di hulunya kita bisa benahi. Itu jauh lebih mudah tetapi memang butuh waktu bisa 5-10 tahun tapi harus ditanami. Nah, kalau itu clear saya kira ini pinggiran surga,” tegas Deddy pada awak media.
 
Kawasan Ciletuh merupakan sebuah Geopark, hal ini karena terdapat fenomena geologi yang unik. Diantaranya, terdapat kumpulan batu melans sebagai akibat dari tumbukan lempeng benua dan kerak samudra yang berumur tersier (50-60 juta tahun). Serta ada pula kontak batuan yang berumur kapur (150 juta tahun), dan batuan baru yang berumur sekitar 60 juta tahun.
 
Menurut Dosen Geologi Unpad Mega Fatimah Rosanah, yang turut serta dalam Rombongan Tim Kerja mengatakan, di Pulau Jawa ada 2 lokasi lain yang mempunyai keunikan seperti Ciletuh, yaitu di Bayat dan Karang Sambung, Jawa Tengah. Tetapi kedua lokasi tersebut berada di tengah hutan. Sedang Ciletuh mempunyai kelebihan karena pemandangan pantai dan keanekaragaman alamnya.
 
“Ada di Bayat dan Karang Sambung Jawa Tengah. Tetapi berada di tengah hutan. Disini mempunyai amphitheater yang disebabkan longsor besar, salah satu Buktinya banyak air terjun,” jelas Mega pada awak media.
 
Menurut Mega, selain batuan Melans, di kawasan Ciletuh ada juga keunikan lainnya, yaitu adanya batuan Oviolit. Batuan ini merupakan batuan paling dalam dari kerak bumi yang ada di kedalaman sekitar 100 km lalu muncul ke atas permukaan bumi.
 
“Ada juga batuan Oviolit, batuan paling dalam dari kerak samudera yang berbatasan dengan mantel bumi yang komposisinya peridotit. Yang harusnya berada puluhan ribu kilometer di bawah bumi sana. Tapi kita sekarang kita lihat dipermukaan. Yang mengangkat 100 km lebih naik ke permukaan. Ini bukti tumbukan lempeng Benua Eropa-Asia dengan benua Laut Samudera Eurasia-Hindia dan Australia, yang terbentuk pada umur kapur-kurang lebih 100 juta tahun yang lalu,” terang Mega.
 
Karena berbagai keunikan dan keunggulan ini, Ciletuh menurut Mega sudah diakui secara internasional dan berpotensi menjadi sarana penggerak ekonomi masyarakat. Namun, tetap harus dikembangkan dengan mengikuti kaidah konservasi dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. “Ini sudah diakui secara internasional. Kemudian ada keragaman flora-fauna dan keragaman budaya, sehingga menjadi potensi geowisata,” tutur Mega.
 
Turut serta dalam rombongan, Asisten Daerah Bidang Perekonomian & Pembangunan Setda Provinsi Jawa Barat Yerry Yanuar-yang juga Ketua Tim Kerja Geopark Ciletuh, Kepala Dinas Perhubungan Jabar Dedi Taufik, serta Kepala Dinas Perikanan & Kelautan Jabar Jafar Ismail. Sumber ( http://www.jabarprov.go.id )

MyLiveChat

Berita Foto

OL From Cianjur

Penerimaan Obsevasi Lapangan (OL) Peserta Diklat ...

Pameran Inovasi ...

Pembukaan Diklat ...

Pembukaan dan pengarahan Diklat Prajab Golongan ...

Follow Badiklatda on Twitter