BANDUNG - Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu penyumbang PDB terbesar setelah Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Timur. Hal itu membuatnya menjadi daerah penting bagi nasional.

Hal itu dikatakan Anggota Dewan Komisioner OJK Ilya Avianty dalam out look perekonomian 2016 di GEdung Sate Jumat.

"Pangsa PDRB Jawa Barat terhadap PDB nasional mencapai 13,30% pada triwulan III-2015, atau sebesar Rp307,37 Triliun (Harga Konstan)," katanya.

Secara sektoral, struktur PDRB Jawa Barat masih ditopang oleh Sektor Industri Pengolahan (42,96%) terutama Industri Pakaian Jadi, Industri Kertas, Industri Bahan Kimia dan Industri  Komputer serta Elektronika.

Sektor pembentuk PDRB lainnya adalah Sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (15,83%) serta Sektor Konstruksi (8,24%). Dari sisi permintaan, struktur PDRB Jawa Barat masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga (61,69%).

Di sisi inflasi, laju inflasi gabungan tujuh kota di Jawa Barat pada bulan September 2015 mencapai 6,11% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang mencapai 6,83% (yoy). Tingginya inflasi di Jawa Barat tidak terlepas dari kontribusi inflasi di kota Bandung dan Bogor, yang masing-masing mencapai 6,90% dan 6,25%.

Sementara itu, kondisi stabilitas sistem keuangan Jawa Barat cukup baik. Hal ini tercermin dari perkembangan beberapa indikator perbankan, seperti: aset, dana pihak ketiga (DPK) dan kredit, serta risiko kredit yang relatif rendah. Total aset bank umum di Jawa Barat pada September 2015 naik 12,85% (yoy) mencapai posisi Rp506,8 triliun. Posisi kredit/pembiayaan meningkat 10,04% (yoy) menjadi Rp324,5 triliun.

Di sisi lain, DPK yang dihimpun tumbuh 11,62% (yoy) menjadi Rp362,1 triliun. Risiko kredit yang dicerminkan oleh Non Performing loan (NPL) atau jumlah kredit bermasalah pada September 2015 tetap terkendali.Persentase NPL gross tercatat sebesar 2,9%. Kenaikan pertumbuhan kredit yang lebih rendah daripada pertumbuhan DPK mengakibatkan Loan to Deposit Ratio (LDR) bank umum konvensional di Jawa Barat turun dari 89,0% pada September 2014 menjadi 88,0% pada September 2015.

Sementara itu, kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) perbankan Jawa Barat sampai dengan Triwulan III-2015 mencapai Rp73,5 triliun atau 24,63% dari total kredit. Pengembangan usaha mikro kecil dan menengah di Jawa Barat merupakan salah satu solusi dalam meredam kemungkinan gejolak finansial global.

"Mencermati perkembangan di atas, kami menaruh harapan optimis terhadap daya tahan perekonomian Jawa Barat dalam menghadapi berbagai tantangan yang diakibatkan oleh gejolak perekonomian global tersebut," katanya.

Namun demikian, salah satu faktor kunci agar hal tersebut terwujud yakni perlu didukung oleh kondisi yang kondusif, serta koordinasi dan sinergi yang baik antara berbagai pemangku kepentingan yakni Pemerintah Daerah, Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, Lembaga Jasa Keuangan, Akademisi, pelaku usaha maupun elemen masyarakat lainnya.

"Untuk itu saya mengharapkan agar semua pihak dapat melakukan konsolidasi dan bersinergi untuk menghadapi semua kemungkinan permasalahan yang dapat terjadi. Selain itu, diharapkan semua pihak menjaga kondisi tetap kondusif, sehingga dapat tercipta iklim berusaha yang mendukung dan relatif tenang," katanya. jo Sumber ( http://www.jabarprov.go.id )

MyLiveChat

Berita Foto

OL From Cianjur

Penerimaan Obsevasi Lapangan (OL) Peserta Diklat ...

Pameran Inovasi ...

Pembukaan Diklat ...

Pembukaan dan pengarahan Diklat Prajab Golongan ...

Follow Badiklatda on Twitter